Pada tahun 2018, panggung yang menampilkan kesenian tari tradisional hadir di tengah-tengah lapangan Desa Jenggawur. Di atas panggung tersebut, terdapat tiga puluh anak yang menari antusias mengenakan kostum sederhana dan properti yang seadanya. Momen inilah yang mengubah arah hidup banyak generasi muda di Jenggawur, sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya Sanggar Tari Gemah Sari. Bu Dewi namanya, seorang pendatang dari kota besar yang bekerja menjadi salah satu perangkat desa, pada mulanya belum berencana mendirikan sanggar tari. Akan tetapi, melihat semangat dari anak-anak yang beliau kumpulkan sendiri untuk menari di acara desa, memunculkan kesadaran dalam benak bahwa banyak bakat yang belum terwadahi.
Bu Dewi merasa terpanggil untuk memberi ruang bagi anak-anak tersebut supaya dapat berkembang dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, di tengah kekhawatiran mengenai pergaulan yang kurang sehat di kalangan generasi muda. Sejak itu, setiap ada perlombaan tari, Bu Dewi berusaha memfasilitasi anak-anak untuk ikut serta. Iuran dikumpulkan dari para peserta untuk kebutuhan kostum dan makeup yang lebih proper sementara kebutuhan yang lain turut ditanggung oleh Bu Dewi sendiri. Walaupun langkah awal mereka tidak langsung menghasilkan prestasi yang gemilang, hanya sebatas juara harapan, tetapi langkah ini menjadi bukti bahwa anak-anak desa mampu bersaing dengan penari-penari dari kota.
Nama Gemah Sari yang menjadi label sanggar yang diinisiasikan oleh Bu Dewi ini, bukan sekedar nama semata. Nama ini diambil dari kepercayaan warga desa yang merujuk pada sosok Dewi Sri, sosok yang dikenal dengan kesuburan dan kemakmuran dalam budaya Jawa. Kemudian pada 2019, sanggar ini resmi berdiri dengan nama “Gemah Sari” yang tertaut dengan filosofi sanggar. Pada mulanya, keanggotaan sanggar hanya diperuntukkan untuk anak-anak Desa Jenggawur saja. Namun semenjak ada tim khusus yang bertugas mengelola sosial media dan administrasi, nama Gemah Sari semakin dikenal lebih luas bahkan menarik minat dari luar desa.
Salah satu hal yang menjadi pembeda antara Gemah Sari dengan sanggar-sanggar lain adalah para pelatih tari yang tidak mempunyai background pendidikan seni tari formal, melainkan murid yang sudah membersamai Bu Dewi sejak sanggar ini belum berdiri hingga saat ini di mana kemampuan mereka berbicara lewat pengalaman menari. Bu Dewi secara aktif mendorong para pelatih ini untuk tidak merasa minder dengan pelatih-pelatih lain yang mempunyai gelar seni tari. Demi menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar itu, Bu Dewi membawa para pelatih bersama anak-anak lain untuk tampil hingga ke Blitar, dan berhasil meraih tiga besar dalam kategori penyaji terbaik. Selain itu, sejumlah pelatih yang tumbuh dari murid juga diikutsertakan dalam workshop tari di Yogyakarta untuk memperkaya wawasan serta mengasah kemampuan lebih dalam.
Hingga akhir tahun 2025, jumlah murid di Sanggar Gemah Sari telah mencapai angka tujuh puluh anak. Sementara latihan rutin dilaksanakan setiap hari Minggu sejak pukul sepuluh pagi, dengan patokan tarif sebesar sepuluh ribu rupiah per kelas. Angka yang bisa dibilang cukup terjangkau, mengingat besarnya biaya operasional yang dibutuhkan untuk sewa kostum, tata rias, hingga perlengkapan sound system. Di awal masa berdirinya, biaya operasional sanggar banyak dibantu oleh berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Puncaknya, di tahun ini, sanggar berhasil mendapatkan kepercayaan dari Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia berupa bantuan dana sebesar lima puluh juta rupiah, sebuah pencapaian luar biasa yang menegaskan bahwa sanggar ini patut untuk mendapatkan perhatian lebih dengan jangkauan yang lebih luas.
Gemah Sari menorehkan sejumlah catatan pencapaian yang membanggakan, diantaranya adalah juara pertama dalam ajang parade budaya dalam peringatan HUT Kabupaten Banjarnegara, juara tingkat kabupaten dalam lomba antar sanggar, hingga prestasi-prestasi lainnya di tingkat provinsi. Bagi Bu Dewi sebagai pendiri sanggar ini, pencapaian mereka adalah hal yang tidak pernah beliau sangka, mengingat tenaga pelatih bukan berasal dari jenjang pendidikan seni tari, melainkan pemuda pemudi dalam rentai usia sekolah menengah atas hingga yang sedang menempuh pendidikan tinggi yang masih sama-sama belajar dan bertumbuh bersama-sama.
Untuk melihat repertoar tari apa saja yang diajarkan dalam sanggar ini yaitu meliputi tari klasik seperti Gambyong dan Banyumasan, hingga tari kreasi baru yang mengangkat nilai-nilai sejarah maupun budaya baik budaya Jawa secara keseluruhan maupun yang berasal dari Desa Jenggawur, seperti Tari Lesung Kencana, Tanduk Srawung, dan Kidung Serayu. Dalam proses berkarya, sanggar Gemah Sari juga memperhatikan aspek hak cipta termasuk perizinan penggunaan aransemen musik yang mengiringi tarian mereka.
Gemah Sari merupakan wadah yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mendaftar, diterima tanpa terkecuali yang kemudian akan diklasifikasikan sesuai tingkat keterampilan masing-masing. Sanggar ini juga secara rutin berpartisipasi dalam berbagai acara adat maupun kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Desa Jenggawur, yang kemudian berbuah respon positif dari masyarakat setempat karena dianggap berhasil mengarahkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan yang bermanfaat.
Di balik setiap piala dan penghargaan yang terpajang rapi, perjalanan Gemah Sari tidak luput dari berbagai kendala dan tantangan. Keterbatasan dana masih menjadi tantangan utama, ditambah minimnya pelatih bersertifikat resmi, maupun kurangnya dukungan dari beberapa pihak membuat pengajuan rancangan anggaran terkadang sulit terealisasikan. Kedepannya, Bu Dewi berharap sanggar ini bisa terus berdiri kokoh dan mencetak penari-penari yang berkualitas meskipun dengan segala keterbatasan yang masih membayangi. Bagi beliau, pelestarian budaya lewat seni tari merupakan upaya untuk menghidupkan kembali sejarah dan kekayaan tradisi Desa Jenggawur, supaya anak muda tidak hanya menari saja, tetapi juga mengenal akar di mana mereka memijakkan kaki.
Disusun oleh Tim Pemdes KKN Unsoed 2026