Sekilas Info
Menjadikan Jenggawur Desa Makmur Sejahtera

ARTIKEL

Menyusur Jenggawur: Peran BUMDEs Bangun Rejo dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

07 Agustus 2026 DWI FATMASARI 37 Kali Dibaca

Di persimpangan yang masyarakat kenal sebagai segitiga Jenggawur, berdiri kantor sederhana dengan logo yang sarat makna, terdapat lambang padi, sungai, gunungan Jawa, dan atap pendopo yang merepresentasikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDEs) Bangun Rejo. BUMDEs berdiri sejak tahun 2017 yang perlahan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat Desa Jenggawur.

BUMDEs Bangun Rejo saat ini dikelola oleh tiga orang pengurus inti, yaitu Nuri Khalifa sebagai direktur, Tri Gunadi sebagai sekretaris, dan Ifan Nur Hidayah sebagai bendahara. Adapun unit usaha yang dijalani cukup beragam antara lain, pengelolaan lahan padi, perdagangan beras, penyediaan layanan wifi, layanan BRILink, hingga laundry. Menurut Bu Nuri, seluruh usaha ini menyasar warga desa sebagai target utama, sekaligus menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Model usaha dari BUMDEs tidak hanya berfokus pada keuntungan tetapi juga memberdayakan warga secara langsung. 

Menariknya, dalam menjalankan unit usaha pengelolaan lahan padi dan perdagangan beras, BUMDEs tidak memiliki mesin penggilingan sendiri. Mereka memilih untuk menyewa penggilingan padi sekaligus peralatannya di salah satu dari lima rice mill yang ada di Desa Jenggawur. Strategi ini cukup efisien karena kebutuhan produksi beras tidak setiap hari, sehingga BUMDEs cukup membayar ongkos giling saat dibutuhkan. Pola nya sedikit berbeda pada unit laundry. Apabila mesin padi hanya dipakai sesekal, mesin cuci laundry justru terpakai hampir setiap hari, sehingga model penyewaan dan kepemilikan alat menyesuaikan intensitas penggunaan masing-masing unit usaha. 

Walaupun tidak mempunyai alat produksi sendiri, kualitas produk selalu menjadi perhatian utama dari BUMDEs Bangun Rejo. Beras Jenggawur sendiri sudah dikenal luas memiliki kualitas yang lebih baik dan rasa yang lebih enak dibandingkan beras dari wilayah lain sehingga beras terus menjadi produk unggulan yang terus dijaga oleh BUMDEs. Untuk perdagangan beras sendiri, harga jual yang ditetapkan sebesar tujuh puluh lima ribu per kantong.

Dari kelima unit usaha yang sudah disebutkan sebelumnya, layanan wifi atau internet tercatat sebagai penyumbang pendapatan terbesar sejauh ini. Meskipun harus bersaing dengan penyedia layanan internet dari perusahaan besar, namun wifi dari BUMDEs tetap lebih diminati masyarakat karena harganya lebih terjangkau yakni sekitar seratus lima puluh ribu per bulannya. Sampai saat ini, jumlah pelanggan aktif sudah mencapai seratus enam puluh tiga rumah tangga. Angka tersebut cukup menunjukkan kepercayaan warga terhadap layanan ini. 

Selain wifi, layanan BRILink juga mendapatkan berbagai perhatian positif karena memudahkan akses warga dalam bertransaksi, mengirim, atau mengambil uang tanpa harus jauh ke bank dengan biaya admin yang relatif lebih ringan. Sementara itu, unit laundry walaupun turut diminati karena masih menjadi satu-satunya layanan cuci dan setrika yang berkapasitas besar belum sebanding dengan pendapatan unit wifi. 

Berkembangnya BUMDEs Bangun Rejo ternyata bukan tanpa gesekan. Bu Nuri mengungkapkan bahwa seiring kemajuan usaha, masih sulit untuk mendapatkan dan membangun kepercayaan serta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Perbedaan pandangan terhadap pengelolaan maupun arah pengembangan usaha menjadi dinamika tersendiri yang perlu dihadapi melalui komunikasi dan transparansi. Meskipun belum memiliki rencana besar untuk membuka unit usaha baru, BUMDEs Bangun Rejo tengah berupaya menjangkau pasar yang lebih luas terutama di sektor perdagangan beras salah satunya dengan cara memasok kebutuhan beras di dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Banjarnegara serta memasok stok di Koperasi Desa Merah Putih.

Dari sisi pengelolaan keuangan, pendapatan BUMDEs berupa net profit per tahun dialokasikan dengan skema 50% untuk Pendapatan Asli Desa 35% untuk pengurus maupun karyawan dalam bentuk bonus tahunan, dan 15% untuk biaya operasional. Modal awal pendirian BUMDEs berasal dari dana desa, yang diperkuat dengan sokongan hibah dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes) serta pemerintah provinsi. 

Di masa depan, harapan terbesar dari pengurus BUMDEs Bangun Rejo cukup sederhana namun berdampak besar, yaitu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi warga Desa Jenggawur. Mimpi ini selaras dengan upaya Indonesia mewujudkan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Sejak tiga tahun terakhir, BUMDEs tidak lagi sekadar membagikan hasil keuntungan tahunan kepada anggotanya, melainkan telah memberikan gaji pokok tetap bagi karyawan yang bekerja di lima unit usahanya, mulai dari pengelolaan lahan padi, perdagangan beras, layanan wifi, BRILink, hingga laundry. Perubahan tersebut menunjukkan transisi dari sistem kerja informal menuju kepastian pendapatan, yang menjadi indikator penting dalam mewujudkan pekerjaan yang layak di desa. Dengan demikian, BUMDEs tidak hanya berperan sebagai badan usaha desa yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga juga menjadi instrumen pembangunan berkelanjutan yang memberdayakan masyarakat secara langsung. 

Kirim Komentar

Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image
 

Peta Wilayah Desa

Agenda

Belum ada agenda

Statistik

Komentar

  • Penduduk Biasa
    14 September 2016 13:09:16

    Selamat atas keberhasilan Senggigi merayakan Hari Kemerdeakaan... selengkapnya

Media Sosial