Sekam padi merupakan limbah hasil penggilingan padi yang jumlahnya cukup melimpah di daerah agraris seperti Desa Jenggawur. Selama ini, sekam padi seringkali hanya di buang atau dibakar tanpa dimanfaatkan secara optimal. Padahal sekam padi berpotensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai, seperti arang sekam dan briket untuk menyuburkan tanaman (pupuk) atau bahkan dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif.
Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan limbah pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru, mahasiswa KKN Universitas Jenderal Soedirman Kelompok 184 menyelenggarakan Sosialisasi Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Arang Sekam dan Briket pada hari Kamis, 6 Agustus 2026, pukul 14.00 WIB di Pendopo Balai Desa Jenggawur. Sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dari tiga dusun yaitu Dusun Binangun, Dusun Jenggawur, dan Dusun Pesanggrahan. Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh bekal wawasan mengenai sekam padi sebagai hasil penggilingan padi yang jangan dipandang sebelah mata. Sekam padi bisa menjadi produk dengan nilai mutu tinggi apabila diolah dengan baik dan benar. Salah satu caranya adalah mengubah sekam menjadi arang sekam, yaitu hasil pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan media tanam berkualitas dan kaya manfaat bagi pertanian.
Selain mengenalkan arang sekam kepada peserta, mahasiswa KKN juga menjabarkan berbagai manfaatnya, antara lain sebagai media tanam pada lahan atau polibag, membantu menjaga ketersediaan unsur hara dan air di dalam tanah, mengurangi limbah, serta dapat dimanfaatkan dalam sistem budidaya tanaman yang ramah lingkungan. Tidak hanya menyampaikan materi saja, kegiatan ini juga dilengkapi dengan demonstrasi proses pembuatan arang sekam, mulai dari persiapan alat dan bahan, proses pembakaran, hingga tahapan yang perlu diperhatikan supaya sekam tidak berubah jadi abu. Harapannya anggota KWT bisa mempraktikannya kembali di rumah.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi dan perhatian terhadap demonstrasi selama berlangsungnya acara tersebut. Para peserta bisa mengikuti dan paham dengan baik, adapun pertanyaan yang sering terlontar dari mereka adalah bagaimana cara memasarkan arang maupun briket dari sekam padi tersebut. Narasumber yang merupakan anggota KKN pun menjawab bahwa kita bisa memasarkan briket dan arang sekam dengan cara yang lebih cepat dan mudah yaitu memanfaatkan e-commerce. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap inovasi sederhana yang dapat memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Dengan selesainya rangkaian acara yang ditutup dengan foto bersama, diharapkan supaya anggota KWT Desa Jenggawur mampu mengoptimalkan pemanfaatan sekam padi yang selama ini belum dimanfaatkan. Penerapan arang sekam dan briket diharapkan bisa mendukung praktik pertanian, meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal, serta membuka peluang inovasi yang bernilai ekonomi.